Ulasan Film Tabula Rasa

Apakah anda sudah menyaksikan film berjudul Tabula Rasa yang dirilis pada tahun 2014 Silam? nampaknya film ini tidak terlalu terdengar bahkan di kalangan pecinta film Indonesia namun sebenarnya film ini bisa dikatakan bermakna namun sangat sederhana, frasa yang sangat tepat untuk disebabkan bagi film ini. bisa dikatakan sederhana karena memang dalam hal ini ceritanya sangat sederhana namun banyak sekali makna yang bisa diambil dari film yang dirilis 6 tahun silam.

Sederhana Namun Bermakna

Tabula Rasa pasalnya berfokus pada pemuda yang berasal dari Papua bernama Hans (Jimmy Kobogau) yang mana bermimpi menjadi seorang pesepakbola profesional. Bisa dikatakan mimpinya hampir menjadi kenyataan saat dirinya diajak ke Jakarta, namun mimpi tetap menjadi mimpi baginya. Secara tak sengaja Hans Kemudian bertemu dengan Mak yang diperankan oleh Dewi Irawan yang mana memiliki rumah makan Padang dan saat itulah perjalanan hidup harus yang sesungguhnya dimulai.

Seperti yang sudah disebutkan di awal bahwa cerita film ini sebenarnya sederhana. bisa dikatakan dari awal sampai akhir tak ada cerita yang benar-benar rumit akan tetapi tetap saja menarik. Unsur yang membuat cerita ini menarik adalah Bagaimana pembentukan karakter dan juga perkembangan karakter dalam film ini. ada empat karakter yang menjadi karakter utama dalam film ini yaitu Hans,  Mak, ParmanTO (Yuyu Unru) dan juga Natsir (Ozzol Ramdan).

Karakter mereka berempat bisa dibilang sangat jelas, tetap dan diberikan porsi yang sudah sangat tepat. Seiring dengan berjalannya film perkembangan karakter Mereka terlihat dan juga terasa sangat natural bahkan tidak dipaksakan. Bersamaan dengan perkembangan, para penonton kemudian salah diberi tahu bahwa 4 karakter ini memiliki perbedaan yang amat sangat signifikan, namun mereka juga memiliki persamaan masing-masing. Akan tetapi perbedaan toto togel online di antara mereka itulah yang akhirnya memicu konflik yang membuat cerita makin hidup dan tetap natural.

Salah satunya adalah saat Parmanto yang mana berperan sebagai Juru Masak dengan kehadiran Hans di rumah makan Padang.sementara itu, Mak, yang memiliki rumah makan padang tersebut mengajak Hans untuk bergabung. Kemudian, persamaan dari mereka adalah mereka sama-sama suka kuliner. makanan lah yang menjadi pemersatu mereka dalam berbagai kondisi saat mereka semua berdamai. Mereka semua memang sangat berbeda namun bisa bersatu setelah belajar dari berbagai macam konflik.

Konflik yang Makin Menarik 

Cerita akhirnya semakin menarik saat menonton disajikan konflik dan juga kedamaian beberapa kali. Bahkan bisa dikatakan perasaan para penonton di buah campur aduk dan bersamaan dengan rasa penasaran Apa yang sebenarnya selanjutnya bakal terjadi.

Inti ceritanya juga atau dalam hal ini maknanya tak di ungkap secara langsung. Nampaknya hal ini masih jarang dilakukan oleh para pembuat film di Indonesia yang kebanyakan masih mengungkapkan makna film secara eksplisit. Dengan pengungkapan makna film secara implisit inilah, film ini menjadi film yang berbeda dari film Indonesia yang lainnya karena penonton dituntut untuk menyelesaikan sendiri permasalahan dan juga rasa penasaran mereka. Penonton juga diajak untuk berpikir lewat adegan demi adegan yang mana menggugah hati mereka.

Tumpal Tampubolon yang mana menulis naskah film ini pasalnya mengerjakan tugasnya dengan sangat baik karena ia bisa membuat dialog dan juga cerita dari film ini terkesan sederhana namun ternyata di dalamnya banyak sekali hal-hal menarik yang bisa dipetik oleh para penonton setelah Mereka menonton film ini. Maka,  tak heran jika ia bisa meraih penghargaan sebagai Penulis Skenario Asli Terbaik Piala Citra 2014.